Rabu, 29 Januari 2014

Suprasegmental



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Dalam kehidupan sosialnya, manusia saling berhubungan antara yang satu dengan yang lain. Dalam hal ini perlu adanya komunikasi. Kebutuhan berkomunikasi itu semakin kompleks seiring dengan perkembangan kebudayaan manusia. Kenyataan demikian menempatkan bahasa sebagai alat komunikasi manusia pada posisi yang penting.
            Agar komunikasi tersebut berjalan dengan baik,kedua belah pihak memerlukan bahasa yang dapat dipahami bersama.Wujud bahasa yang utama adalah bunyi. Bunyi-bunyi itu disebut bunyi bahasa. Dalam pengucapannya, bunyi-bunyi bahasa dapat disegmentasikan atau dipisah-pisahkan (bunyi segmental). Dalam bunyi yang dapat disegmentasikan itu terdapat unsur-unsur yang menyertainya sehingga disebut bunyi suprasegmental.
            Untuk dapat lebih benar dalam mengucapkan bunyi-bunyi tersebut, perlu diketahui unsur-unsur yang menyertai bunyi segmental tersebut.
B.     Rumusan Masalah
Berikut permasalahan yang timbul dari bunyi-bunyi suara manusia
1.      Apa saja yang ada pada bunyi suprasegmental.
2.      Unsur apa sajakah yang ada pada bunyi suprasegmental.
3.      Bunyi apa sajahkan yang dapat dipisah-dipisah ketika mengucapkan.

C.    Tujuan masalah
1.      Mengetahui unsur-unsur yang menyertai bunyi segmental.
2.      Mengetahui tinggi rendahnya bunyi ujaran.






BAB II
PEMBAHASAN

A.    Suprasegmantal
            Fonem adalah bunyi, dan bunyi, menurut bisa terpisah-tidaknya, terbagi menjadi dua: segmental dan suprasegmental. Segmental adalah fonem yang bisa dibagi. Contohnya, ketika kita mengucapkan “Bahasa”, maka nomina yang dibunyikan tersebut (baca: fonem), bisa dibagi menjadi tiga suku kata: ba-ha-sa. Atau dibagi menjadi lebih kecil lagi sehingga menjadi  : b-a-h-a-s-a.
            Fonem dapat dibagi manjadi dua bagian besar, yaitu fonem utama dan fonem kedua. fonem utama adalah sebuah unit bunyi terkecil yang merupakan unsur dari sebuah bentuk uncapan yang mempunyai fungsi sendiri. Sedangkan fonem yang kedua adalah sebuah fenomena atau sifat bunyi yang mempunyai fungsi dalam ungkapan ketika diucapkan bersambung dengan kata-kata lain.
            Fonem kedua adalah ontonim dari fonem utama, tidak termasuk bagian dari suatu kata, tetapi dapat diketahui apabila suatu kata disambung dengan kata lain, atau sebuah kata yang digunakan dengan penggunaan khusus. Fonem utama disebut dengan segmental, sedangkan fonem kedua disebut dengan bunyi suprasegmantal atau sesuatu yang menyertai fonem tersebut, yaitu berupa tekanan suara (intonation), panjang-pendek (pitch), dan getaran suara yang menunjukkan emosi tertentu. jadi, kesemua yang tercakup ke dalam istilah suprasegmenal itu tidak bisa dipisahkan dari suatu fonem. Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa sesuatu yang terdapat dalam fonem itu bisa dipisahkan sedangkan yang mengiringinya tidak bisa dipisahkan. Itulah yang dimaksud dengan segmental dan suprasegmental.
            Meskipun dari sini sudah jelas letak perbedaan keduanya, tetapi ada perbedaan yang patut pula kita ketahui, yaitu perbedaan menurut jenis makna yang dihasilkannya. Untuk memahami pembagian tersebut, bisa dilihat pada ilustrasi berikut ; Ketika seseorang mengucapkan nomina, “Ibu”, secara datar tanpa diiringi oleh intonasi dan getaran-getaran tertentu, maka fonem yang mengandung nomina “Ibu” tersebut hanya dapat dipahami maknanya sebagai “Ibu” saja, tidak lebih. Tetapi kalau ia diucapkan dengan intonasi yang kasar misalkan dengan getaran-getaran yang tidak biasa, maka kita bisa tahu bahwa ucapan tersebut mengandung nada yang kasar.
            Dari ilustrasi di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa perbedaan antara segmenta dengan suprasegmental adalah kalau yang pertama dia hanya menghasilkan makna tekstual (sesuai makna nomina yang diucapkan), sedangkan yang kedua mampu menghasilkan makna yang kontekstual (karena makna tekstualnya sudah bercampur dengan keadaan dan kondisi si pengucap yang itu diketahui lewat intonasi dan getaraan-getaran yang mengiringi fonem tersebut).         

Penggalan kata
            Penggalan kata terjadi akibat tekanan udara dari paru-paru dan keluarnya udara dari paru-paru tersebut secara terputus-terputus, yahg hanya memungkinkan terjadinya beberapa bunyi. Setiap tekenan yang dilakukan oleh dinding penyekat rongga dada terhadap udara yang terdapat didalam paru-paru, memungkinkan terjadinya sederetan penggalan.
            Penggalan kata adalah unit bunyi terkecil yang dapat dituturkan dimana pembicara dapat berpindah dari penggalan tersebut kebagian kalimat yang lain.
            Sudah menjadi kebiasaan dalam penganalisisan penggalan kata selalun menggunakan simbol-simbol yang merupaka lambang dari konsonan dan vokal yang merupakan unsur dari kalimat itu. Pada umumnya analisi penggalan kata menggunakan simbol (C) untuk konsonan dan (V) untuk vokal latin, atau ص untuk konsonan dan ح untuk vokal dalam bahasa Arab.
            Penggalan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan struktur suatu bahasa. Dengan analisis penggalan kata, akan diketahui apakah suatu ucapan sesuai dengan stuktur suatu bahasa atau tidak. 
            Dari analisis pemenggalan kata yang dilakukan terhadap bahasa Arab, bahwa :
            Dalam bahasa Arab tidak terdapat kata yang mempunyai lebih dari empat penggalan, kecuali dari wazan-wazan (فعوللان, يتفاعل, يتفعّل). Semua wazan-wazan ini, ketida dalam kondisi bersambng terdiri dari lima penggalan, sedangkan dalam kondisi berhenti hanya terdiri dari empat penggalan.
            Penggalam kata yang terbanyak dalam bahasa Arab (CVC) kemidian (CV). Sedangkan penggalan kata yang jarang terjadi adalah (CVCC) yang tidak dijumpai kecuali dalam kondisi berhenti.
            Semua penggalan kata dalam bahasa arab dimulai dengan konsosnan (C). Terdapat lima penggalan kata utama dalam bahasa Arab, yaitu
a.       CV, seperti (ف)  dalam (ف هـ م  ) ;
b.      CVC, seperti (عن) dan (بأس) ;
c.       CVV, seperti (في) dan (راعى) ;
d.      CVVC, seperti (باب) dan (رحيم) ketika waqaf ;
e.       CVCC, seperti (بنت) dan (كلب) ketikan waqaf.

            Berkenaan dengan poin (4), Dr. Tamam Hasan, Berpendapat bahwa penggalan kata dalam bahasa Arab dimulai dengan vokal. Dengan demikian, beliau menambahkan wazan keenam (VC) dan memberi contoh dengan (ال) ma’rifah.
            Penggalan kata dapat dibagi ke dalam beberapa bagian sesuai dengan dua sudut pandang, yaitu sebagai berikut.
1.      Ditinjau dari segi bunyi akhir, suatu penggalan dapat dibagi dua bagian, yaitu
a.       Tertutup, yaitu penggalan yang berakhir dengan konsonan, seperti (فتْحْ) ketika waqaf, yang berakhir dengan dua konsonan.
b.      Terbuka, yaitu penggalan kata yang berakhir dengan bunyi vocal, seperti (فَتَحَ) dalam kondisi bersambung, yang terdiri dari tiga penggalam kata vokal.
2.      Ditinjau dari segi panjang pendeknya bunyi terakhir, penggalan kata dapat dibagi menjadi dua, yaitu
a.       Pendek, yaitu penggalan kata yang berakhir dengan vokal pendek, seperti (كتب) yang berakhir dengan vokal pende.
b.      Panjang, yaitu penggalan kata yang berakhir dengan vokal panjang, seperti نا dalam kata (كتبنا).


B.     Bunyi Suprasegmental
            Telah dijelaskan di atas bahwa bunyi-bunyi bahasa ketika diucapkan ada yang bisa disegmen-segmenkan, diruas-ruaskan, atau dipisah-pisahkan, misalnya senua bunyi vokoid dan kontoid. Bunyi-bunyi yang bisa disegmentasikan ini disebut bunyi segmental. Tetapi ada juga yang tidak bisa disegmen-segmenkan karena kehadiran bunyi ini selalu mengiringi atau menemani bunyi segmental (baik vakoid maupun kontoid). Oleh karena sifat yang demikian, bunyi itu disebut suprasegmental, alih-alih disebut bunyi non segemntal.

C.    Unsur Siprasegmental 
            Dalam arus ujaran itu, ada bunyi yang dapat disegmentasikan, sehingga disebut bunyi segmental; tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi tidak dapat disegmentasikan. Bagian dari bunyi tersebut disebut bunyi suprasegmental atau prosodi (Abdul Chaer 2003:120). Bagian bunyi tersebut memiliki unsur-unsur bunyi bahasa yang menyertai pengucapan. Unsur-unsur bunyi bahasa itu antara lain : lafal, tekanan, intonasi, dan jeda.

Penjelasan hal di atas sebagai berikut:
1.      Lafal
            Lafal ialah cara seseorang atau sekelompok orang dalam suatu masyarakat bahasa mengucapkan bunyi bahasa (Kridalaksana 1993:124). Dalam bahasa tulis, lafal tidak terlihat dengan jelas. Lafal lebih tercermin dalam bahasa lisan. Misalnya kata tepat berbeda dengan cepat, guna berbeda dengan tuna, kerak berbeda dengan gerak.
            Tidak ada pedoman khusus untuk mengatur lafal atau ucapan. Berbeda dengan sistem tata tulis yang di atur dalam Pedoman Ejaan yang Disempurnakan (EYD) yang harus dipatuhi setiap pemakai bahasa tulis bahasa Indonesia sebagai ukuran bakunya. Karena lafal sering dipengaruhi oleh bahasa daerah mengingat pemakai bahasa Indonesia merupakan masyarakat dwilingual yang dimana mereka masih sulit untuk meninggalkan bahasa ibu sehingga hal ini mewarnai penggunaan lafal bahasa Indonesia. Contoh: kata kenapa diucapkan oleh orang Betawi menjadi kenape. Pada masyarakat Jawa, khususnya daerah Jawa Tengah pengucapan huruf d sering diiringi dengan bunyi /n/, huruf b sering diiringi dengan bunyi /m/, misalnya Demak menjadi [ndemak], Blora menjadi [mblora] dan sebagainya.

2.      Tekanan
            Tekanan ialah ucapan yang ditekankan pada suku kata atau kata sehingga bagian tersebut tampak lebih keras atau menonjol dari suku kata atau kata yang lain. Ketika mengucapkan suatu kalimat yang didalamnya terdapat kata yang penting biasanya kita akan menekan suku kata atau kata tersebut agar lawan tutur memahaminya dengan benar. Tekanan biasa juga di sebut aksen.
            Yang dimaksud dengan istilah ini adalah pengucapan yang terjadi peda penggalan kata tertentu sehingga terdengar lebih  jelas dari penggalan kata yang lain. Hal ini terjadi dengan pengaktifan semua organ bicara secara serentak mulai dari paru-paru, kerongkongan sampai bunyi tersebut kelaur dari mulut atau hidung.
            Jika kita mengucapkan kata “lari” yang terdiri dari dua penggalan kata     (la + ri), kita merasakan bahwa penggalan kata pertama (la) mendapat tekanan yang lebih dari yang kedua (ri), tetapi jika kata tersebut kita beri akhiran “kan”, sehingga menjadi “larikan”(tiga penggalan) maka kita merasa bahwa tekanan yang lebih kuat sudah pindah kepenggalan terakhir, yaitu “kan”. Begitu juga kalau kita beri awalan “di” menjadi “dilarikan” (empat penggalan) maka kita merasa bahwa tekanan sudah berpndah ke “ri”.
             Hal yang sama terjadi juga dalam bahasa Arab, kata إشربْ terdiri dau penggalan إش dan رب (CVC-CVC), kita merasakan bahawa tekanan jatuh pada penggalan pertama إش, tetapi apabila kita menambah dhamir di akhir, menjadi tiga penggalan إشربْه , (CVC-CVC-CV) maka kits merasa bahwa tekanan sudah berpindah ke penggalan kedua, yaitu رب.
            Dalam sebagian bahasa, tekanan mempunyai peran yang sangat penting dalam membedakan bentuk dan makna kata. Dalam bahasa yang seperti initekanan dapat membedakan sebuah kata/kalimat dari bentuk kata/kalimat yang lain, dengan artian bahwa tanpa keikutsertaan tekanan dalan penuturan kalimat, kita tidak akan dapat mengerti maksud kalimat itu secara utuh.
            Tekanan juga dapat membedakan arti suatu kalimat dari kalimat lain, dengan artian bahwa suatu kalimat akan berbeda artinya apabila diucapkan dengan tekanan yang berbeda.  Perhatika contoh tekanan kalimat yang ditandai kata bercetak tebal miring di bawah ini!
1.      Ternyata Rizki berhasil menjadi juara I lomba KIR kemarin, Din. (bukan Anton)
2.      Ternyata Rizki berhasil menjadi juara I lomba KIR kemarin, Din. (bukan juara II)
3.      Ternyata Rizki berhasil menjadi juara I lomba KIR kemarin, Din. (bukan lomba baca puisi)
            Dalam literatur bahasa Arab menyimpulkan, bahwa bahasa Arab mempunyai letak tekanan, diantaranya :
1.        Tekanan pada Penggalan Kata Pertama
            Fenomena ini terjadi apabila tiga penggalan kata terbutka dan pendek terdapat berturut-turut dalam satu kata, seperti (ر حـ م) (CV-CV-CV) atau kata tersebut mempunyai lebih dari tiga penggalan kata, dimana tiga penggalan kata pertama terdiri atas penggalan kata pendek dan terbuka, seperti ( ر قـ بـ ة ) (CV-CV-CV-CVC) atau sebuah kalimat yang hanya terdiri atas satu penggalan kata saja, seperti ( ناس , نار )  (CVC) ketika waqaf.

2.        Tekanan pada Penggalan Kata Terakhir
            Terjadi apabila penggalan kata tersebut terdiri dar wazan (CVVC), seperti (عين) dalam kata (نستعين) atau wazan (CVCC) katika waqaf, sepeti (تقرّ)  dalam kata (مستقرّ).

3.        Tekana pada Penggalan Kata Sebelum Akhir
            Terjadi apabila penggalan kata yang terakhir tidak dari dua wazan yang baru disebut diatas dan dalam kata itu tidak terdapat penggalan kata yang sama CV (pendek terbuka), seperti ( أُنصُرْ أخاك ظالما أو مظلوما ) maka tekanan jatuh pada penggalan kata-kata sebelim akhir.

4.        Tekanan pada Penggalan Kata Ketiga dari Akhir
Hal ini terjadi pada kondisi-kondisi sebagai berikut :
a.       Apabila dua penggalan kata sebelum akhir dari wazan (CV) seperti            ( ازدهر , ابتكر )  (CVC-CV-CV-CV) maka tekanan jatuh pada da dan ta.
b.      Apabila penggalan kata yang ketiga dari akhir wazan (CVC) dan yang sebelum akhir dari wazan (CV) seperti ( مركبُك , مَقدمك ) (CVV-CV-CVC) maka tekanan jatuh pada penggalan kata ketiga dari akhir.
c.       Apabila penggalan kata yang terakhir dari wazan (CVV) dan yang sebelumnya dari wazan  (CV), seperti pada ( قدموا , بكروا ), (CV-CV-CVV) maka tekanan jatuh pada penggalan kata yang ketiga dari akhir.

            Tekanan tidak akan jatuh pada penggalan pertama kecuali bila tiga penggalan sebelum akhir terdiri dari wazan pertma (CV).
            Walaupun bahasa Arab tidak termasuk bahasa tekana (لغة نبرية ), namun dalam bahasa Arab terdapar banyak contoh yang mnunjukkan  bahwa letak tekanan menentukan bentuk kata atau kalimat atau paling tidak membedakan arti suatu kalimat, seperti (كريم الخلق) dan (كريمو الخلق)  dimana tekanan sangat berperan dalam membedakan bentuk kalimat dari tunggal menjadi jamak.


Intonasi
            Intonasi ialah perubahan nada yang dihasilkan pembicara pada waktu mengucapkan ujaran atau bagian-bagiannya (Kridalaksana 1993:85). Intonasi biasa dikenal dengan lagu kalimat atau ketetapan penyajian tinggi rendahnya nada kalimat. Kalimat, jika diucakan dengan nada datar dapat mengandung maksud pemberitahuan. Akan tetapi jika diucapkan dengan nada tinggi dapat mengandung maksud kekaguman, keheranan, ataupun rasa ketidakpercayaan. hal ini tergantung pada situasi pembicara. Maka dari itu, dalam bahasa Indonesia terdapat tiga jenis intonasi di lihat dari maksudnya, yaitu:
a)      Intonasi berita, digunakan untuk mengungkapkan pembicaraan yag berisi pemberitahua
tentang sesuatu. Dalam penulisan ditandai penggunaan tanda titik (.). Contoh: Budi akan mengikuti olimpiade Fisika.
b)     Intonasi pertanyaan, digunakan untuk bertanya tentang sesuatu (yang mengungkapkan maksud pembicara untuk memnita keterangan dari lawan tutur). Dalam penulisan ditandai penggunaan tanda tanya (?). Contoh: Mengapa datang terlambat?
c)      Intonasi perintah, digunakan untuk mengungkapkan maksud pembicara agar lawan bicara melakukan suatu perbuatan. Dalam penulisan ditandai penggunaan tanda seru (!). Contoh: Belajarlah dengan tekun!

Sedangkan dilihat dari lagu kalimatnya, yaitu:
a)      Intonasi naik. Contoh: Apa maksudnya?
b)      Intonasi datar. Contoh: Kita harus bekerja keras.
c)      Intonasi menurun. Contoh: "Besok pagi pekerjaan ini seharusnya selesai,"kata ibu.

3.      Jeda/waqaf
            Jeda ialah hentian dalam ujaran yang sering terjadi di depan unsur yang memunyai isi informasi yang tinggi atau kemungkinan yang rendah (Kridalaksana 1993:88). Biasa dikenal yang lebih ringkas yaitu hentian sebentar dalam ujaran. Dalam bahasa lisan, jeda ditandai dengan kesenyapan. Pada bahasa tulis jeda ditandai dengan spasi atau dilambangkan dengan garis miring (/), tanda koma (,), tanda titik koma (;), tanda titik dua (:), atautanda hubung (-). Jeda sangat berpengaruh terhadap perubahan makna. Perhatikan contoh di bawah ini!
1.      Kata adik, ibu Ani itu guru yang pandai.
2.      Kata adik ibu, Ani itu guru yang pandai.
3.      Kata adik ibu Ani, itu guru yang pandai.
            Ketiga kalimat tersebut memiliki makna yang berbeda. Perbedaan itu dapat kita deskripsikan sebagai berikut:

BAB III
KESIMPULAN
            Fonem adalah bunyi, dan bunyi, menurut bisa terpisah-tidaknya, terbagi menjadi dua: segmental dan suprasegmental. Segmental adalah fonem yang bisa dibagi. Contohnya, ketika kita mengucapkan “Bahasa”, maka nomina yang dibunyikan tersebut (baca: fonem), bisa dibagi menjadi tiga suku kata: ba-ha-sa. Atau dibagi menjadi lebih kecil lagi sehingga menjadi  : b-a-h-a-s-a.
            Sedangkan suprasegmental adalah sesuatu yang menyertai fonem tersebut, yaitu berupa tekanan suara (intonation), panjang-pendek (pitch), dan getaran suara yang menunjukkan emosi tertentu.
            Bunyi-bunyi bahasa ketika diucapkan ada yang bisa disegmen-segmenkan, diruas-ruaskan, atau dipisah-pisahkan, misalnya senua bunyi vokoid dan kontoid. Bagian bunyi tersebut memiliki unsur-unsur bunyi bahasa yang menyertai pengucapan. Unsur-unsur bunyi bahasa itu antara lain : lafal, tekanan, intonasi, dan jeda.

  

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2003. Lingusitik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik Edisi Ketiga. Jakarta: Gramedia

Marsono. 1999. Fonetik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tulis Komentar