BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bahasa yang
digunakan terus menerus tentunya akan mengalami perkembagan, dengan pengayaan
kosakata dan penyempurnaan kaidah kebahasaan. Paling tidak, akan menyerap unsur
bahasa asing untuk menambah kekayaan kosakata bahasa tersebut. Permasalahan
penyerapan kata dari Bahasa Arab kedalam bahasa Indonesia tidak lepas dari
aspek fonologi, gramatikal, dan subsistem leksikal
(semantis).[1]
Tapi sebelum
bahasa itu diserap sudah semestinya memiliki proses atau mekanisme dalam pengelolaannya.
Sebenarnya ada proses tertentu ketika unsur asing akan menjadi keluarga dalam
Bahasa Indonesia. Pertama adalah dengan menterjemahkan unsur asing tersebut
kedalam bahasa Indonesia, bila tidak dapat diterjemahkan maka cara yang kedua
adalah dengan mencarikan padanannya dalam bahasa Indonesia, bila memang tidak
ada padannanya dalam bahasa Indonesia maka, kata tersebut diserap kedalam
bahasa Indonesia. penyerapan kedalam bahasa Indonesia tentunya ada aturannya
terkait dengan perbedaan beberapa aspek diatas tadi. Bila bahasa tersebut
bersifat ilmiah dalam artian bahasa tersebut berkaitan dengan hal- hal yang
tidak ada di Indonesia maka diserap dengan apa adanya, seperti kata, fotosintesis,imbibisi,
hardisk, flasdisk, otomotif, akhlaq, sodaqoh, dan sebagainnya. Akan
tetapi bila bahasa tersebut tidak bersifat ilmiah atau yang wujudnya penemuan
maka disesuaikan dengan EYD Bahasa Indonesia, seperti contoh: kata Research
menjadi Riset, kataجمعة menjadi Jumat . Nah dari contoh tersebut dapat
dipahami bahawa proses penyerapan ada yang tetap dan ada yang disesuaikan
dnegan EYD Bahasa Indonesia.
Dalam pembahasan
ini peneliti tidak adan membahas bagaimana klasifikasi dari bahasa- bahasa yang
diserab tersebut, akan tetapi terfokus pada bahasa serapan yang ejaannya
disesuaikan dengan EYD bahasa Indonesia karena perubahan ejaan tersebut
berimplikasi terhadap makananya khusunya dari bahasa Arab. Seperi kata ‘Kha/خ” yang dalam bahasa Indonesia dilafadkan dengan “Ka/ك” yang tentunya terjadi perubahan makna dari makna kata aslinya. Contoh ;
kata “خلب” yang artinya Hati,[2]
karena bahasa tersebut diserap kedalam bahasa Indonesia maka ditulis “kalbu”
yang artinya pangkal perasaan batin; hati yang suci (murni).[3]
Sedangkan bila dibandingkan dengan bahasa Arab kata كلب"” artinya adalah anjing.
B.
Rumusan Masalah
1.
Makna Sepuluh Kata Dalam Bahasa
Indonesia
2.
Makna Sepuluh Kata Dalam Bahasa Arab
3.
Analisis Persamaan Dan Perbedaan
4.
Analisis Konstrastif Dengan Melalui
Jadwal Tabel
C.
Tujuan Masalah
Setelah mengetahui dari uraian malakah
ini yang membahas tentang “Perbedaan Antara
Kosa Kata Bahasa Arab Dan Bahasa Indonesia Serta Implikasinya Terhadap Makna” kita dapat
mengetahui sekaligus dapat nmenggunakan bahasa arab yang telah banyak digunakan
dalam bahasa indonesia.
BAB II
PERBEDAAN ANTARA KOSA KATA BAHASA
ARAB DAN BAHASA INDONESIA SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP MAKNA
A.
MAKNA SEPULUH KATA
DALAM BAHASA INDONESIA
Bahasa Indonesia
dalam perjalannya mengalami beberapa penyempurnan. Mulai dari bahasa Indonesia
dengan EYD versi lama, seperti pada penulisan (teks asli) sumpah pemuda,
kemudian dirombak lagi, dan dirombak terus guna penyempurnaan. Akan tetapi
penyempurnaan tersebut, dalam konteks sekarang ada beberapa hal yang menyimpang
atau bahkan membuang makna asli kata tersebut. Adapun sepuluh kata dalam KBBI
dari Bahasa Arab yang sudah termodifikasi dalam kaidah Bahasa Indonesia, antara
lain;
No
|
Kata
|
Kata Asli
|
Makna
|
1
|
Kalbu (nomina)
|
خلب
|
Pangkal perasaan batin; hati
yang suci (murni)
|
2
|
Umroh (nomina)
|
عمرة
|
Kunjungan ke tanah suci sebagai bagian dari rangkaian
ibadah haji, tetapi tanpa wukuf di Padang Arafah, yang pelaksanaannya dapat
bersamaan dengan haji atau di luar ibadah haji; haji kecil
|
3
|
Maklum (verba)
|
معلوم
|
1.
Paham; mengerti; tahu:
2.
Dapat dipahami (dimengerti)
|
4
|
Jumat (adverbia)
|
جمعة
|
Menunjukkan Hari
|
5
|
Salat (nomina)
|
صلاة
|
1.
Rukun Islam kedua, berupa ibadah kepada Allah Swt;
2.
Doa kepada Allah;
|
6
|
Saleh (adjektiva)
|
صلح
|
1.
Taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah;
2.
Suci dan beriman:
|
7
|
Rakyat (nomina)
|
الرعية
|
1.
Segenap penduduk suatu negara (sabagi imbangan
pemerintah);
2.
Orang kebanyakan; orang biasa;
3.
kl pasukan (bala
tentara);
|
8
|
Makbul (adjektiva)
|
مقبول
|
1.
kabul; diluluskan (tentang permintaan, doa;
2.
berhasil; tercapai (tentang maksud):
3.
manjur (tentang obat, guna-guna, dsb)
|
9
|
Daif (adjektiva)
|
ضعيف
|
Tidak berdaya; tidak kuasa; hina.
|
10
|
Dalalat (nomina)
|
ضلالة
|
Kesesatan
|
B.
MAKNA SEPULUH KATA
DALAM BAHASA ARAB
Makana kata yang
terbuat dari bahasa Arab yang sudah terserap kedalam bahasa Indonesia maka akan
terjadi setidaknya pergeseran makna ataupun menyimpang dari makna asli. Adapun
makna dari kata tersebut antara lain;
No
|
Kata Bahasa Arab
|
Kata Bahasa Indonesia
|
Makna
|
1
|
كلب
|
Kalbu
|
Galak, Suka menggigit,(anjing)
|
2
|
أمرة
|
Umroh
|
Perintah
|
3
|
مكلوم
|
Maklum
|
Mempertunjukkan
|
4
|
جمة
|
Jumat
|
Rambut palsu
|
5
|
صلاة
|
Salat
|
Mengupas, lupa, mencambuk
|
6
|
صلح
|
Saleh
|
Kotoran, mempersenjatai
|
7
|
الركية
|
Rakyat
|
Sumur yang berisi air
|
8
|
مكبل
|
Makbul
|
Yang dibelenggu
|
9
|
دإف
|
Daif
|
Mencampur
|
10
|
دلالة
|
Dalalat
|
Petunjuk
|
C.
ANALISIS PERSAMAAN
DAN PERBEDAAN
A.
Analisis Persamaan
Setiap bahasa, tentunya memiliki
kekahasan masing- masing, begitu juga kondisinya dengan Bahasa Indonesia dan
Bahasa Arab dalam kaitannya pengayaan kosakata bahasa Indonesia. Dalam kasus di
atas hampir dapat dipastikan tidak ada relevansi ataupun kesamaan. Dengan
asumsi bahwa, setiap bunyi (fonoligi) memiliki lambang- lambangnya sendiri, dan
perbedaannya hanya sedikit, tetapi dalam tulisan fonemik hanya perbedaan bunyi
yang distingtif (membedakan makna yang diperbedakan lambangnya).[4]
Akan tetapi secara garis besar dapat disimpulkan terkait makna sepuluh kata
dari bahasa Arab dalam KBBI di atas memiliki persamaan yaitu masih mengacu pada
makna asli yang terdapat dalam kata tersebut. Seperti misalnya kata (BA) “الرَّعِيَّةُ” dengan kata (BT) “Rakyat” yaitu segenap penduduk suatu negara. Makna kata
masih berada di dalam kata tersebut (sebagai makna denotatif).
B. Analisis Perbedaan
Permasalahan yang menjadi titik tekan
dalam hal kata serapan khususnya dari Bahasa Arab adalah kenyataan bahwa bentuk
asli dari kosakata tersebut, telah dihapus ataupun di desain ulang akibat
proses pembaruan bahasa Indonesia, sehingga mengalami proses buatan atau
rekayasa (rekayasa fonologi/ fonetik). Dan dalam proses rekayasa dan
pengambilan keputusan mana yang seharusnya dianggap tepat dan tidak, guna
standarisasi bahasa, hanya diketahui oleh Komite Bahasa (PBBI) saja. Sehingga
terjadi ketidak pemahaman proses naturalisasi dan ketidak sepakatan masyarakat
terhadap keputusan tersebut. Mengingat ada beberapa fon/ huruf baik itu vokal
maupun konsonan yang sulit diucapkan oleh masyarakat Indonesia.
kaidah
bahasa Indonesia dengan Arab memang sangat berbeda. Begitu juga beberapa huruf
dan fonem bahasa Arab, memiliki perbedaan yang sangat mencolok dengan yang ada
dalam bahasa Indonesia, seperti perbedaan q dan k. Dalam bahasa
Arab qof dan kaf memiliki makna yang berbeda, namun dalam bahasa
Indonesia tidak demikian. Begitupun perbedaan fonem ‘a dibaca ‘ain dalam
huruf Arab dan diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi a.[5]
Bagi sebagian
kalangan ini sangat berbahaya, tetapi ada juga yang menganggap bahwa bahasa
yang terserap sudah pasti mengikuti kaidah kebahsaan dalam bahasa tersebut,
tanpa mempertimbangkan aspek etiomolgi (asal usul kata, pembahasan dan
pembatasanya). Misalnya kata Dalalat pada fonem Da apakah mengacu
pada kata (ض) atau pada
kata (د) atau pada kata (ذ).
Karena dengan perbedaan fon tersebut akan mempengaruhi makna. Jika Dalalat
yang dimkasud dengan menggunakan (ض)
maka artinya kesesatan, akan tetapi bila yang dimaksud dengan kata (د)
maka artinya petunjuk.
D.
JADWAL ANALISIS
KONSTRASTIF
Jadwal analisis
ini adalah upaya untuk mengetahui relevansi antara kedua bahasa dengan unsur
serapan yang sudah dibakukan.
No
|
Kata
|
Persamaan
|
Perbedaan
|
Kode
Translitrasi
|
1
|
Kalbu (nomina)
|
Makna Asli
|
Terjadi perubahan baik dari tataran fonologi,fonetik,
maupun semantik (spesifikasi), dan kode penyerupaan dalam fonologi
(apostrof).
|
Kh
|
2
|
Umroh (nomina)
|
|||
3
|
Maklum (verba)
|
‘ (apostrof)
|
||
4
|
Jumat (adverbia)
|
‘
|
||
5
|
Salat (nomina)
|
Sh
|
||
6
|
Saleh (adjektiva)
|
Sh
|
||
7
|
Rakyat (nomina)
|
‘
|
||
8
|
Makbul (adjektiva)
|
‘
|
||
9
|
Daif (adjektiva)
|
Dl/ Dh
|
||
10
|
Dalalat (nomina)
|
Dl/ Dh
|
BAB III
KESIMPULAN
Dengan gambaran
tersebut, dapat dibangun satu asumsi kesimpulan, bahwa kosakata bahasa
Indonesia, banyak yang menyimpang dari koriodor asli bahasa sumber. Hal
tersebut dengan memperhatikan etimologi kosakata yang diambil. Meskipun dalam
kaidah kebahasaan Indonesia mempunyai aturan tersendiri terkait unsur serapan,
yang disesuaikan dengan struktur fonologi dan suku kata melayu dan bahasa
Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Kridalaksana Harimukti, 2007. Pembentukan
Kata dalam Bahasa Indonesia, Cet, IV,
Jakarta: Gramedia.
Suparman Tatang, 2008. Kosa Kata
Serapan Dari Bahasa Arab, Bandung: Fakultas
Sastra UNPAD .
Pusat Pembinaan dan pengembangan Bahasa
Depdiknas RI, 2001. EYD Bahasa Indonesia,
Bnadung: Yrama Widya.
Departemen Pendidikan Nasional,2008. KBBI,
Jakarta: Pusat Bahasa Indonesia.